MASIHKAH PERUBAHAN ITU DIBUTUHKAN

By : Zack

Kenapa banyak orang yang meneriakkan perubahan, bisa dikatakan hampir semua orangpun ingin meneriakkan perubahan. Siapasih yang gak mau adanya perubahan.setiap saat dimana kita berkesempatan membuka mata , selalu saja disuguhkan dengan slogan-slogan yang bertemakan perubahan, sembari dibubuhi dengan janji-janji dan senyuman yang memukau bak seorang pahlawan yang dinanti-nantikan.

Jika boleh bertanya, emang seberapa pentingya sih perubahan, hingga banyak orang yang kecanduan meneriakkan perubahan. Mulai dari anak remaja, ibu rumah tangga, petani pegawai swasta, politisi dll. Banyak sekali media untuk meneriakkan perubahan baik dipinggir jalan, dikantor, media massa seperti Koran dan televise. Kaca mobilpun tak pelak ditempelkan dengan slogan-slogan yang berbau perubahan, tembok dan badan jalanpun  yang sekiranya bisa dilihat  dengan mata tak luput dari serbuan poster-poster, baleho dam bahkan hampir tidak ada tempat yang tidak bertemakan perubahan.

Dari situ muncullah pertanyaan. Apakah begitu sulitnya memperolah kesejahteraan dan kelayakan hidup bagi bangsa ini, hingga banyak PKL melakukan aksi perlawanan dan turun kejalan, banyaknya para buruh yang melakukan mogok kerja, dan mahasiswapun tidak mau kalah  dengan melakukan aksi bergaya Spiderman dan Batman layaknya seorang actor pahlawan yang sangat dinantikan kedatangan, namun tatkala pahlawan tersebut datang dan ingin  menyelamatkan justru mendapatkan perlawanan tiap kali mereka melakukan aksi dengan pukulan, semprotan watercanon dan juga pukulan bertubi-tubi dari para peseragam yang mengatasnamakan pihak keamanan. Alih – alih ingin menyelamatkan, justru malah terjadi ketegangan antar kedua  belah pahlawan ini.

Apakah kesejahteraan tidak pernah dirasakan oleh para wakil rakyat, hingga mereka melakukan korupsi. Pantas saja banyak anak-anak yang tak mampu bersekolah karna mahalnya pendidikan. Seandainyapun mereka bersekolah, selalu saja perasaan takut menghantui diri mereka, takut tatkala mereka sedang belajar tiba-tiba hujan datang dan merobohkan sekolah mereka.

Padahal mereka sebelumnya telah menyerukan perubahan dengan berbagai slogan bernadakan janji-janji yang tak dapat diragukan lagi. Asik memang ketika mendapatkan sapaan ramah, senyuman manis dan pelukan hangat mereka tatkala bertandang ketempat kita dimusim perebutan kursi antara sesama elit-politisi.

Kenapa mereka para penguasa menangis haru ketika menyaksikan sinetron  bertajuk cinta, akan tetapi bebanding terbalik ketika menyaksikan banyak orang yang kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencarian akibat keramahan satpol PP atau mungkin mereka tidak sempat menonton karena sibuk dengan kepentingannya.

Mungkin kita patut memberikan mascot kepada mereka yang tegas terhadap PKL yang bandel dan ramah terhadap para pengusaha dan investor yang bemodal besar. Sebab, para pengusaha yang bermodal besar merupakan sumber devisa Negara. Berkat jasanya telah memberikan pemasukan yang besar terhadap cadangan kas Negara. Hal itu berbeda dengan para pedagang berpakaian lusuh yang berserakan dipinggir jalan dan pemukiman-pemukiman liar yang kumuh dengan dalih hanya membuat mata gerah melihatnya, sebab katanya merusak keindahan kota, mendingan dibuat mall dan perumahan yang jelas keuntungannya. Tandas mereka para-elite yang telah menang dalam pertarungan dimusim perebutan kursi, dengan mengatasnamakan diri mereka sebagai wakil rakyat dan akan senantiasa siap menerima keluhan dan aspirasi.

Lantas apa yang salah dari semua ini, sebab perubahan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, padahal tenggorokan ini sudah sakit berteriak akan pentingnya sebuah perubahan dan pahlawan kamipun telah banyak jatuh berguguran. Oh.. mungkin ini salah kita yang tidak mau menerima bantuan asing karna sok menjadi orang kaya. atau semua ini akibat kesalahan para actor perubahan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat padahala tidak lain mewakili kepentingan diri mereka sendiri, mungkin juga ini salah kita yang tidak mau menerapkan hukum demokrasi-pancasila yang merupakan mandate dari para pendiri Negara ini, atau mungkin juga karena kesalahan diri kita yang tidak memiliki idealisme.

Jika begitu…

Apa pentingnya Idealisme…

Apa pentingnya perubahan…

Apa artinya lepas dari penjajahan…

Apa..apa dan apa…

Apa bedanya ada pemimpin atau tidak

Apa bedanya ada ideology atau tidak

Apa bedanya ada agama atau tidak

Sampaikan semua ini kepada semua orang…

Sampai kapan orang miskin bisa merasakan bangku pendidikan,

atau mungkin pendidikan itu hanya milik kaum borjuis

Sejauh ini perubahan memang belum dirasakan secara nyata, jika pun ada  hanya sebagian kecil yang bisa merasakannya. Pemerintah mengklaim perekonomian bangsa mengalami peningkatan dengan menunjukkan angka-angka berbentuk grafik-grafik yang artinya tingkat kesejahteraan naik. Namun hal itu hanya sekedar omong kosong setelah ditemukan kasus busung lapar ditanah papua yang terdapat gunung emas. Lantas apakah data yang disajikan itu merupakan manipulasi belaka.

Ada rumor yang beredar bahwasanya semua ini akibat ketidak becusan para pemimpin dalam menjalankan tugas, maka layak diadakan pergantian pemimpin. Bangsa ini telah mengalami pergantian rezim berkali-kali, apa yang bisa dirasakan oleh rakyat. Justru rakyat malah semakin bingung dan hal tersebut menimbulkan sikap skeptis dan krisis kepercayaan kepada para pemimpin. Mereka yang dipercayakan sebagai wakil rakyat dengan harapan dapat menampung aspirasi masarakat tapi apa yang terjadi, mereka malah melakukan penyimpangan-penyimpangan dan ketidak adilan. Ketika rakyat tidak menginginkan naiknya harga BBM, mereka justru menaikkannya. Ketika rakyat menolak bantuan IMF, mereka malah mengundangnya. Ketika rakyat menolak kedatangan sang pembawa petaka, mereka malah menyambutnya bak raja dengan sambutan meriah dan pengamanan super ketat, hingga harus mengorbankan kepentingan rakyat. Warga dilarang berjualan, sekolahpun diliburkan dan warga dilarang berada dijalan yang akan dilalui sang pembawa petaka, jika masih nekat, maka warga akan dihadapkan dengan moncong-moncong para sniper yang telah siaga. Apakah mereka lupa bahwa dalam demokrasi teorinya adalah “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”. Lantas jika begitu, mewakili siapa mereka. Wajar saja jika angka “golput” kian hari meningkat jika memang faktanya demikian.

Komentar ditutup.